Pages

Sabtu, 30 November 2013

pengertian intonasi

Asalamualaikum...................bagi orang beragama islam dan selamat datang bagi orang selain beragama islam.
 
Intonasi adalah “...the assemble of pitch variations in speech caused by the varying periodicity in the vibrations of the vocal cords.” ‘rangkaian variasi nada dalam tuturan yang disebabkan oleh vibrasi pita suara’(‘t Hart, Collier, dan Cohen, 1990:2). Batasan yang diberikan oleh ‘t Hart, Collier, dan Cohen di atas mengimplikasikan bahwa, pertama, intonasi dimanifestasikan dalam wujud nada. Oleh sebab itu, unsur yang terpenting dalam sistem intonasi bahasa adalah nada, lebih lengkapnya variasi nada. Kedua, nada secara fisiologis dihasilkan melalui getaran pita suara yang terletak di dalam laring organ alat ucap. Getaran pita suara ini pulalah yang menyebabkan pergeseran pertikel udara yang kemudian menghasilkan bunyi.

Intonasi merupakan fenomena bahasa yang universal. Semua bahasa memiliki sistem intonasi kecuali Amahuaca, yaitu sebuah bahasa yang menurut Bolinger (1964) tidak memiliki sistem intonasi (Lehiste, 1970:100). Walaupun intonasi merupakan fenomena universal, setiap bahasa memiliki karakteristik yang khas yang belum tentu dimiliki oleh bahasa-bahasa lain. Boleh dikata tidak ada dua bahasa yang benar-benar memiliki karakateristik intonasi yang sama persis.
Pada dasarnya intonasi tidak dapat mengubah makna leksikal (Lehiste, 1970:96). Walaupun demikian, dalam komunikasi lisan intonasi tetap memiliki fungsi yang penting. Pertama, intonasi dapat memberi signal sintaktis. Kedua, intonasi dapat memberi signal semantis (Ball dan Muller, 2005:108). Alwi et al. (2003:55) menyatakan bahwa pada semua bahasa, nada memberikan informasi sintaksis. Penelitian Sugiyono (2003a) terhadap bahasa Melayu Kutai telah membuktikan bahwa ciri prosodik pola intonasi merupakan penanda kontras antara kalimat deklaratif dan interogatif. Hasil penelitian serupa terhadap bahasa Jawa ragam Keraton Yogyakarta yang dilakukan Rahyono (2003) menyatakan bahwa alir nada dalam intonasi adalah unsur yang mengontraskan modus kalimat. Hasil-hasil penelitian tersebut sejalan pula dengan hasil kajian Halim (1984) yang telah membuktikan bahwa dalam bahasa Indonesia intonasi memiliki fungsi demarkatif, yaitu merupakan alat penting sebagai pembatas konstituen topik dan sebutan. Pada tataran semantis, intonasi dapat memberi informasi bagian mana yang menjadi informasi baru (new information) dan informasi lama (given information) (Ball dan Muller, 2005:108) atau mana yang menjadi fokus informasi dan mana yang bukan menjadi fokus informasi. Dalam intonasi, biasanya, bagian yang memuat informasi baru atau fokus informasi diberi tekanan.
Ketiga, pada tataran pragmatis berdasarkan pengalaman empiris dalam percakapan sehari-hari, pendengar sering memberi perhatian khusus terhadap intonasi penutur. Pike menyatakan bahwa makna intonasi sering kali lebih diperhatikan daripada makna leksikal. Orang lebih tertarik memperhatikan sikap penutur (attitude); apakah seorang penutur mengatakan sesuatu dengan senyum atau dengan sinis (Pike, 1945:20). Dari penjelasan tadi, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi intonasi adalah sebagai penanda kesantunan dan emotif. Selain itu, Pike menjelaskan pula bahwa perbedaan konfigurasi nada dalam ujaran dapat mengimplikasikan perubahan hubungan penutur dan kalimatnya atau kalimat terhadap lingkungannya (Pike, 1945:20). Contohnya, sikap ragu-ragu seseorang dapat disignalkan oleh intonasinya.
Keempat, ditinjau dari kacamata sosiolinguistik, intonasi dapat memberi gambaran adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Penelitian Syarfina (2008) terhadap bahasa Melayu Deli membuktikan bahwa ciri-ciri akustik dalam intonasi merupakan pemarkah kelas-kelas sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu, sangat mungkin pula identitas asal daerah teridentifikasi dari intonasinya. Ball dan Muller menjelaskan,”All languages will have a set number of different possible nuclear pattern; and these are also likely to differ from dialect to dialect“(Ball dan Muller, 2005:108)
Kelima, dari sudut pandang wacana lisan, intonasi merupakan unsur yang tidak dapat diabaikan karena intonasi merupakan salah satu pilar utama dalam wacana lisan. Dalam praktik berbahasa sehari-hari bersama dengan unsur-unsur bahasa lainnya seperti unsur leksikal, tata kalimat, dan tekanan; intonasi ikut pula membangun kohesi wacana dalam komunikasi lisan (Halim, 1984:1). Ketidakakuratan pemakaian pola intonasi dalam konteks komunikasi tertentu maupun penafsirannya dapat menyebabkan kegagalan penyampaian dan pemaknaan pesan (pragmatic failure). Oleh sebab itu, pengetahuan, penguasaan, dan kepekaan terhadap intonasi merupakan suatu keharusan seorang penutur bahasa jati.
Keenam, kaitannya dengan pemelajaran bahasa, pengetahuan tentang intonasi dapat membantu seseorang yang sedang mempelajari suatu bahasa untuk dapat berbicara mendekati karakteristik tuturan penutur asli bahasa yang sedang dipelajari.
Dari paparan di atas, secara teoretis dapat disimpulkan bahwa kajian tentang intonasi menjadi sangat penting. Selayaknya setiap bahasa memiliki deskripsi yang lengkap berkaitan dengan sistem intonasi. Akan tetapi, di banyak negara kajian intonasi hingga kini belum cukup memuaskan jika dibandingkan dengan kajian-kajian dalam ilmu linguistik lainnya. Masalah serupa terjadi pula di Indonesia. Kajian tentang intonasi bahasa di Indonesia masih menjadi barang langka.
Dengan adanya ketimpangan yang tadi disebutkan, beberapa peneliti Indonesia maupun dari luar telah melakukan kajian intonasi di Indonesia dengan mendalam. Mereka adalah Alisjahbana, Armijn Pané, A.A. Fokker, Suparno (Baca Rahyono, 2003 &Sugiyono, 2003), Halim (1969, 1974, dan 1984), Samsuri (1971), Alieva et al. (1991), Ebing (1997), Rahyono (2003), Sugiyono (2003), Stoel (dalam Heuven & Ellen van Zanten, 2007), Syarfina (2003), dan Sustiyanti (2009). Selain itu, terdapat pula bahasan intonasi secara sepintas dalam Buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003:84-86) dan Moeliono (1989). Namun, jika diukur dengan parameter jumlah bahasa yang hidup di Indonesia, hingga kini usaha-usaha penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di atas belum menutupi kerumpangan kajian intonasi di Indonesia. Masalah lain adalah kajian-kajian di atas masih terfokus pada bahasa Indonesia sebagai objek kajian, sedangkan bahasa-bahasa daerah belum diteliti secara mendalam.

kunci determinasi

Definisi
Kunci determinasi atau kunci dikotom adalah cara atau langkah untuk mengenali organisme dan mengelompokkannya pada takson makhluk hidup.
Kunci dikotomis berisi deskripsi ciri-ciri organisme yang disajikan dengan karakter berlawanan.
Kunci dikotomis terdiri dari sederetan pernyataan yang terdiri dari dua baris dengan ciri yang berlawanan.

Cara membuat kunci dikotomis:


1. Buatlah tabel atau diagram dari objek yang akan di identifikasi
2. Diagram terdiri atas dua karakter
2. Ubahlah diagram dalam bentuk pernyataan

Pembuatan kunci dikotom berdasarkan diagram di atas adalah:
1. a. daun tunggal ....................................................................................................... 2
....b. daun majemuk ................................................................................................... 4
2. a. bangun daun bergaris ....................................................................................... rumput
....b. bangun daun lebar ............................................................................................. 3
3. a. tepi daun bergerigi ............................................................................................ kembang sepatu
....b. tepi daun bercangap ......................................................................................... kentang
4. a. daun dengan tujuh helai anak daun ................................................................ kapuk
....b. daun lebih dari tujuh helai anak daun ............................................................ 5
5. a. anak daun duduk pada ibu tangkai daun ....................................................... mahoni
....b. anak daun duduk pada cabang tingkat satu dari ibu tangkai daun............. kembang merak

Jumat, 29 November 2013

pengenalan al-quran

Asalamualaikum................... bagi orang beragama islam dan selamat datang bagi orang selain beragama islam.
 

Kelebihan Al-Quran

Al-Quran ialah Kitabullah yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. Al-Quran merupakan senjata yang paling mujarab yang melimpah ruah, mata air yang tidak mungkin kering, di dalamnya penuh dengan nur hidayah rahmat dan zikir.

Al-Quran diturunkan untuk mengajar manusia tentang pengesaannya kepada Allah (tauhid). Konsep ibadat yang jelas dan menyeluruh agar manusia sentiasa mendapat bekalan yang baru dan segar. Mengajak manusia berfikir tentang ciptaan, pengawasan dan penjagaan yang ditadbirkan oleh yang Maha Agong agar dapat mengenal sifat-sifatNya yang Unggul.

Di dalam Al-Quran dipaparkan juga contoh tauladan dan juga kisah-kisah yang benar berlaku sebelum turunnya Al-Quran dan pada masa penurunan Al-Quran. Dengan itu manusia mendapat pengajaran dan panduan dalam mengharungi kehidupan sebagai muslim yang sejati dan benar dalam semua bidang kehidupan.

Al-Quran menjelaskan juga persoalan tentang akhir kehidupan manusia, situasi terakhir yang akan dirasai oleh manusia sebelum bumi ini dihancurkan oleh Allah untuk bermulanya hari qiamat dan nasib tiap-tiap insan sama ada ke syurga atau ke neraka.

Sebelum Al-Quran diturunkan ada banyak kitab suci dan suhuf yang diturunkan oleh Allah S.W.T kepada nabi-nabi dan rasul-rasulNya. Antara yang termasyhur ialah kitab Zabur yang diturunkan kepada nabi Daud a.s, kitab Taurat yang diturunkan kepada nabi Musa a.s, dan kitab Injil yang diturunkan kepada nabi Isa a.s tetapi tidak syak lagi bahawa Al-Quran adalah kitab yang paling utama dan termulia di sisi Allah S.W.T.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah s.a.w telah bersabda yang berbunyi:

Dari Aisyah r.a telah bersabda Rasulullah s.a.w:
Sesungguhnya tiap-tiap sesuatu itu mempunyai kemegahan yang mana manusia berbangga dengannya dan menjadi kemegahan kebanggaan umatku ialah Al-Quran yang mulia.

Al-Quran terpelihara dan susunannya tidak berubah-ubah dan tidak boleh dipinda atau dihapuskan. Walaupun banyak usaha dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk mengubah dan meminda isi kandungan Al-Quran atau memutar belit ayat-ayat dan surah-surah, setiap kali usaha itu dibuat ia tetap dapat diketahui termasuk juga usaha golongan-golongan kuffar.

Al-Quran adalah satu perlembagaan yang lengkap bagi semua aspek kehidupan, mengandungi semua yang dihajati oleh manusia walaupun sebahagian daripada huraiannya tidak terperinci. Tujuannya Allah menyuruh manusia menggunakan fikiran yang sihat dan sempurna untuk mencari dan mengkaji berpandukan saranan yang diberi oleh Allah S.W.T.

Dalam Al-Quran Allah S.W.T berfirman:

Sesungguhnya telah datang kepada kau cahaya kebenaran (Nabi Muhammad s.a.w) dari Allah dan sebuah Kitab (Al-Quran) yang jelas nyata kebenarannya dengan itu Allah menunjukkan jalan keselamatan serta kesejahteraan kepada sesiapa yang mengikut keredhaanNya dan denganya Tuhan keluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman) yang terang benderang dengan izinNya dan dengannya juga Tuhan menunjukkan mereka ke jalan yang betul dan harus.
(Surah Al-Maidah: 14 &15)

Firman Allah S.W.T lagi:

Kitab Al-Quran ini tidak ada sebarang syak padanya dan ianya menjadi petunjuk bagi orang yang bertaqwa.
(Surah Al-Baqarah: 2)

Sebuah hadis dari Rasulullah s.a.w berbunyi:

Abu Zar r.a berkata bahawa beliau meminta Rasulullah s.a.w memberi satu pesanan yang berpanjangan. Rasulullah s.a.w bersabda:
“Semaikanlah perasaan taqwa kepada Allah kerana ia adalah sumber bagi segala amalan-amalan baik. Aku meminta supaya baginda menambah lagi. Tetapkanlah membaca Al-Quran kerana ia adalah nur untuk kehdupan ini dan bekalan untuk hari akhirat.”

Kita dikehendaki membaca, mendalami dan menghayati isi kandungan Al-Quran kerana ia diturunkan bukan untuk dijadikan perhiasan sahaja, dengan itu kita mendapat faedah yang besar bukan sahaja pahala da keredhaan Allah tetapi juga kegunaan lain dalam kehidupan sehari-hari.

Membaca Al-Quran dikira sebagai berzikir dan zikir membaca Al-Quran lebih afdal dan utama daripada zikir-zikir yang lain. Oleh itu membaca Al-Quran adalah sebagai ibadat tetapi tidaklah melebihi daripada ibadat-ibadat yang wajib.

Dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda:

Semulia-mulia ibadat umatku ialah membaca Al-Quranul Karim ( ibadat yang bukan wajib).

Membaca Al-Quran disifatkan sebagai santapan rohani kepada tiap-tiap orang Islam.



Rasulullah s.a.w bersabda dalam sebuah hadis berbunyi:

Sesungguhnya Al-Quran ini ialah hidangan Allah S.W.T maka hendaklah kamu terima hidangan Allah sebanyak mana yang kamu boleh.

Al-Quran juga merupakan senjata yang paling berkesan untuk membersihkan jiwa dan menyinarkannya.

Dalam sebuah hadis Rasulullah s.a.w bersabda:

Daripada Ibnu Umar r.a berkata:
“Rasulullah s.a.w telah bersabda, hati manusia akan berkarat seperti besi yang dikaratkan oleh air. Apakah cara untuk menjadikan hati bersinar semula. Katanya dengan banyak mengingati mati dan membaca Al-Quran.”




PAHALA MEMBACA AL-QURAN

Allah S.W.T. Yang Maha Pemurah memberi pahala yang amat besar kepada orang yang membaca Al-Quran, tiap-tiap satu huruf ada pahalanya dan tiap-tiap satu ayat pun ada ditentukan pahalanya yang tidak sama antara satu dengan yang lain.

Pahala tiap-tiap huruf Al-Quran dijelaskan dalam sebuah Hadis dari Ibnu Masud r.a dari Rasulullah s.a.w:

Daripada Ibnu Masud r.a telah berkata bahawa Rasulullah s.a.w telah bersabda/;
Barangsiapa membaca satu huruf daripada Kitabullah maka baginya satu kebajikan dan setiap kebajikan sepuluh kali gandanya. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.

Mengenai pahala tiap-tiap ayat telah disebut dalam beberapa hadis antaranya yang diriwayatkan daripada Abi Hurairah r.a telah bersabda Rasulullah s.a.w:

Sesiapa yang membaca Al-Quran sepuluh ayat dalam satu malam tidak dimasukkan ke dalam golongan yang lalai.


Sesiapa yang memelihara sembahyang fardu tidak termasuk dalam golongan yang lalai dan sesiapa yang membaca 100 ayat pada satu malam dimasukkan ke dalam golongan yang taat.


Barangsiapa yang mendengarkan satu ayat daripada Al-Quran ditulis baginya satu kebajikan yang berlipat kali ganda dan barang siapa yang membacanya adalah baginya cahaya pada hari Qiamat.

Adapun pahala membaca surah-surah banyak diriwayatkan dalam hadis-hadis Rasulullah s.a.w antaranya:

Sesiapa yang mambaca surah Yasin dipermulaan hari, segala hajatnya bagi hari itu dipenuhi.


Sesiapa yang membaca surah al-Waqiah pada tiap-tiap malam kebuluran/kepapaan tidak akan menima dirinya.

Selain daripada pahala yang disebut sebelum ini, pahala membaca dalam solat dan pahala membaca dengan berwuduk lebihbesar ganjarannya daripada tidak berwuduk. Berpandukan Hadis Rasulullah s.a.w yang panjang dapat disimpulkan seperti berikut:

1. Pahala membaca Al-Quran dalam solat bagi tiap-tiap satu huruf seratus kebajikan.
2. Pahala membaca dengan berwuduk di luar solat bagi tiap-tiap satu huruf sepuluh kebajikan.



KELEBIHAN MEMBACA AL-QURAN

Orang yang selalu membaca Al-Quran semata-mata kerana Allah diberi kelebihan yang tinggi dan berbeza semasa mereka masih hidup ataupun sesudah berada di akhirat di samping kemuliaan yang dikurniakan kepada orang yang membaca Al-Quran kelebihan melimpah juga kepada kedua ibubapanya.

Hadis dari Rasulullah s.a.w yang berbunyi:

Sesiapa yang membaca Al-Quran dan beramal dengan apa yang terkandung di dalamnya, ibubapanya akan dipakaikan mahkota pada hari kiamat yang sinarannya akan melebihi daripada cahaya matahari jika matahari itu berada di dalam rumah-rumahnya di dunia ini. Jadi bayangkanlah bagaimana pula orang yang dirinya sendiri mengamalkan dengannya.

Al-Quran juga dapat memberi syafaat (pertolongan) yang paling tinggi di sisi Allah S.W.T di hari qiamat. Ini berpandukan kepada Hadis Rasulullah s.a.w yang berbunyi:

Tidak ada syafaat yang paling tinggi melainkan Al-Quran yang bukan Nabi dan bukan malaikat dan sebagainya.

Hadis lain daripada Othman Ibnu Affan r.a dari Rasulullah s.a.w yang berbunyi:

Sebaik-baik kamu yang mempelajari Al-Quran dan mengajarnya kepada orang lain.



KERUGIAN MEREKA YANG TIDAK MEMBACA AL-QURAN

Dalam hadis Rasulullah s.a.w baginda ada menyebut tentang orang yang tidak ada langsung membaca Al-Quran dan rongga mulutnya kosong dengan ayat-ayat Al-Quran seperti rumah yang kosong dari penghuni.

Hadis dari Rasulullah s.a.w berbunyi:

Sesungguhnya orang yang tidak ada pada rongganya sedikitpun daripada Al-Quran seperti rumah yang ditinggalkan kosong.



ADAB MEMBACA AL-QURAN

Seseorang yang membaca Al-Quran seolah-olah ia berada di sisi Allah S.W.T dan bermunajat kepadaNya maka hendaklah menjaga adab-adab yang tertentu yang layak di sisi tuhan Yang Maha Agong lagi Maha Mulia. Ulamak-ulamak muktabar telah menggariskan beberapa adab sebagai panduan sepeti berikut:

1. Hendaklah sentiasa suci pada zahir dan batin kerana membaca Al-Quran adalah zikir yang paling afdal (utama) dari segala zikir yang lain.

2. Hendaklah membaca di tempat yang suci dan bersih yang layak dengan kebesaran Yang Maha Agong dan ketinggian Al-Quranul Karim. Para Ulamak berpendapat sunat membaca Al-Quran di Masjid iaitu tempat yang bersih dan mulia di samping dapat menambah kelebihan pahala-pahala iktiqaf.

3. Hendaklah memakai pakaian yang bersih, cantik dan kemas.

4. Hendaklah bersugi dan membersihkan mulut. Melalui mulut tempat mengeluarkan suara menyebut ayat Al-Quran. Hadis Rasulullah s.a.w berbunyi:
      Sesungguhnya mulut-mulut kamu adalah merupakan jalan-jalan lalunya Al-Quran maka peliharalah dengan bersugi.

      Berkata Yazid bin Abdul Mallek:
      Sesungguhnya mulut-mulut kamu adalah merupakan jalan-jalan lalunya Al-Quran maka peliharalah dengan bersugi.
5. Hendaklah melahirkan di dalam ingatan bahawa apabila membaca Al-Quran seolah-olah berhadapan dengan Allah dan bacalah dalam keadaan seolah-olah melihat Allah S.W.T. Walaupun kita tidak dapat melihat Allah sesungguhnya Allah tetap melihat kita.

6. Hendaklah menjauhkan diri dari ketawa dan bercakap kosong ketika membaca Al-Quran.

7. Jangan bergurau dan bermain-main ketika sedang membaca Al-Quran.

8. Hendaklah berada dalam keadaan tenang dan duduk penuh tertib. Jika membaca dalam keadaan berdiri hendaklah atas sebab yang tidak dapat dielakkan adalah harus.

9. Setiap kali memulakan bacaan lebih dahulu hendaklah membaca Istiazah: (A'uzubillahiminasy-syaitannirrajim).
      Kerana memohon perlindungan dari Allah dari syaitan yang kena rejam.

10. Kemudian diikuti dengan membaca basmallah: (Bismillahirrahmanirrahim).
      Hendaklah membaca Bismillah itu pada tiap-tiap awal surah kecuali pada surah At-Taubah.

11. Hendaklah diulang kembali membaca Istiazah apabila terputus bacaan di luar daripada Al-Quran.

12. Hendaklah membaca dengan Tartil (memelihara hukum Tajwid). Secara tidak langsung menambah lagi minat kepada penghayatan ayat-ayat yang dibawa dan melahirkan kesan yang mendalam di dalam jiwa.
      Firman Allah S.W.T:

      Kami membaca Al-Quran itu dengan tartil.
(Surah Al-Furqan: 32)
      Hendaklah kamu membaca Al-Quran dengan tartil.
(Surah Al-Muzammmil: 4)


      Pengertian Tartil pada bahasa:

      Memperkatakan sesuatu perkara itu dengan tersusun dan dapat difahami serta tanpa gopoh-gopoh.

      Menurut Istilah Tajwid ialah membaca Al-Quran dalam tenang dan dapat melahirkan sebutan huruf dengan baik serta meletakkan bunyi setiap huruf tepat pada tempat-tempatnya.

      Saidina Ali k.w berkata:

      Pengertian tartil ialah mentajwidkan akan huruf-huruf Al-Quran dan mengetahui wakaf-wakafnya.

13. Hendaklah berusaha memahami ayat-ayat yang dibaca sehingga dapat mengetahui tujuan Al-Quran diturunkan oleh Allah S.W.T.
      Allah S.W.T. berfirman:

      Inilah Al-Quran yang memimpin jalan yang lurus.
      (Surah Al-Israi’: 9)

      Firman Allah S.W.T.:

      Kami turunkan Al-Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang mukminin.
(Surah Al-Isra’: 82)

      Firman Allah S.W.T. lagi:

      Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh barakah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.
      (Surah Sad: 29)

14. Hendaklah menjaga hak tiap-tiap huruf sehingga jelas sebutannya kerana tiap-tiap satu huruf mengandungi sepuluh kebajikan. Hadis dari Rasulullah s.a.w berbunyi:

      Diriwayatkan dari Tirmizi dari Abdullah bin Masud daripada Rasulullah s.a.w telah bersabda sesiapa yang membaca satu huruf daripada Kitabullah (Al-Quran) maka baginya satu kebajikan dan setiap kebajikan sepuluh kali gandanya. Aku tidak mengatakan Alif Laam Miim satu huruf tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.

15. Hendaklah membaca al-Quran mengikut tertib Mashaf. Dilarang membaca dengan cara yang tidak mengikut susunan kecuali diceraikan surah-surah dengan tujuan mengajar kanak-kanak adalah diharuskan.

16. Hendaklah berhenti mambaca apabila terasa mengantuk dan menguap kerana seseorang yang sedang membaca Al-Quran ia bermunajat kepada Allah dan apabila menguap akan terhalang munajat itu kerana perbuatan menguap adalah dari syaitan.
      Berkata Mujahid:
      Apabila kamu menguap ketika membaca Al-Quran maka berhentilah dari membaca sebagai menghormati Al-Quran sehingga selesai menguap.

17. Hendaklah meletakkan Al-Quran di riba atau di tempat yang tinggi dan jangan sekali-kali meletakkannya di lantai atau di tempat yang rendah. Sabda Rasulullah s.a.w berbunyi:
      Ubaidah Mulaiki r.a meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w bersabda:
      “Wahai kaum ahli-ahli Al-Quran jangan gunakan Al-Quran sebagai bantal tetapi hendaklah kamu membacanya dengan teratur siang dan malam.”

18. Hendaklah memperelokkan bacaan dan menghiaskannya dengan suara yang baik.
      Sabda Nabi s.a.w dalam sebuah hadis:

      Telah bersabda Nabi Muhammad saw, hiasilah Al-Quran dengan suara-suara kamu.

19. Setiap bacaan hendaklah disudahi dengan membaca:
      (Sadaqallahul’azim).

20. Disunatkan berpuasa di hari khatam Al-Quran dan diikuti dengan mengumpul ahli keluarga dan sahabat handai bersama-sama di dalam hari khatam Al-Quran. Dalam sebuah hadis ada menjelaskan kelebihan orang yang telah khatam Al-Quran menerusi sebuah hadis yang berbunyi:
      Telah bersabda Nabi Muhammad s.a.w, sesiapa yang telah khatam Al-Quran baginya doa yang dimakbulkan.


SURAH-SURAH DALAM AL-QURAN
Nombor SurahNama SurahBilangan AyatTempat Turun AyatTertib Penurunan Ayat
1 Al-Faatihah 7 Makkiyyah 5
2 Al-Baqarah 286 Madaniyyah 87
3 Al-Imraan 200 Madaniyyah 89
4 An-Nisaa' 176 Madaniyyah 92
5 Al-Maa'idah 120 Madaniyyah 112
6 Al-An'aam 165 Makkiyyah 55
7 Al A'Raf 206 Makkiyyah 39
8 Al-Anfaal 75 Madaniyyah 88
9 At-Taubah 129 Madaniyyah 113
10 Yunus 109 Makkiyyah 51
11 Hud 123 Makkiyyah 52
12 Yusuf 111 Makkiyyah 53
13 Ar-Ra'd 43 Madaniyyah 96
14 Ibrahim 52 Makkiyyah 72
15 Al-Hijr 99 Makkiyyah 54
16 An-Nahl 128 Makkiyyah 70
17 Al- Israa' 111 Makkiyyah 50
18 Al-Kahfi 110 Makkiyyah 69
19 Maryam 98 Makkiyyah 44
20 Taha 135 Makkiyyah 45
21 Al-Anbiyaa' 112 Makkiyyah 73
22 Al-Hajj 78 Madaniyyah 103
23 Al-Mu'minuun 118 Makkiyyah 74
24 An-Nur 64 Madaniyyah 102
25 Al-Furqaan 77 Makkiyyah 42
26 Asy-Syu'araa' 227 Makkiyyah 47
27 An-Naml 93 Makkiyyah 48
28 Al-Qasas 88 Makkiyyah 49
29 Al-'Ankabuut 69 Makkiyyah 85
30 Ar-Ruum 60 Makkiyyah 84
31 Luqman 34 Makkiyyah 57
32 As-Sajdah 30 Makkiyyah 75
33 Al-Ahzaab 73 Madaniyyah 90
34 Saba' 54 Makkiyyah 58
35 Faatir 45 Makkiyyah 43
36 Yaa siin 83 Makkiyyah 41
37As-Saaffaat 182 Makkiyyah 56
38 Saad 88 Makkiyyah 38
39 Az-Zumar 75 Makkiyyah 59
40 Al Mu'min 85 Makkiyyah 60
41 Fussilat 54 Makkiyyah 61
42 Asy Syura 53 Makkiyyah 62
43 Az-Zukhruf 89 Makkiyyah 63
44 Ad-Dukhaan 59 Makkiyyah 64
45 Al-Jaathiyah 37 Makkiyyah 65
46 Al-Ahqaaf 35 Makkiyyah 66
47 Muhammad 38 Madaniyyah 95
48 Al-Fat-h 29 Madaniyyah 111
49 Al-Hujuraat 18 Madaniyyah 106
50 Qaaf 45 Makkiyyah 34
51 Adz-Dzaariyaat 60 Makkiyyah 67
52 At-Tuur 49 Makkiyyah 76
53 An-Najm 62 Makkiyyah 23
54 Al-Qamar 55 Makkiyyah 37
55 Ar-Rahmaan 78 Madaniyyah 97
56 Al-Waaqi'ah 96 Makkiyyah 46
57 Al-Hadiid 29 Madaniyyah 94
58 Al-Mujaadalah 22 Madaniyyah 105
59 Al-Hasyr 24 Madaniyyah 101
60 Al-Mumtahanah 13 Madaniyyah 91
61 As-Saff 14 Madaniyyah 109
62 Al-Jumu'ah 11 Madaniyyah 110
63 Al-Munaafiquun 11 Madaniyyah 104
64 At-Taghaabun 18 Madaniyyah 108
65 At-Talaaq 12 Madaniyyah 99
66 At-Tahriim 12 Madaniyyah 107
67 Al-Mulk 30 Makkiyyah 77
68 Al-Qalam 52 Makkiyyah 2
69 Al-Haaqqah 52 Makkiyyah 78
70 Al-Ma'aarij 44 Makkiyyah 79
71 Nuh 28 Makkiyyah 71
72 Al-Jinn 28 Makkiyyah 40
73 Al-Muzzammil 20 Makkiyyah 3
74 Al-Muddaththir 56 Makkiyyah 4
75 Al-Qiyamah 40 Makkiyyah 31
76 Al-Insaan 31 Madaniyyah 98
77 Al- Mursalaat 50 Makkiyyah 33
78 An-Naba' 40 Makkiyyah 80
79 An-Naazi'aat 46 Makkiyyah 81
80 'Abasa 42 Makkiyyah 24
81 At-Takwiir 29 Makkiyyah 7
82 Al- Infitaar 19 Makkiyyah 82
83 Al-Mutaffifiin 36 Makkiyyah 86
84 Al-Insyiqaaq 25 Makkiyyah 83
85 Al-Buruuj 22 Makkiyyah 27
86 At-Taariq 17 Makkiyyah 36
87 Al-A'laa 19 Makkiyyah 8
88 Al-Ghaasyiyah 26 Makkiyyah 68
89 Al-Fajr 30 Makkiyyah 10
90 Al-Balad 20 Makkiyyah 35
91 Asy-Syams 15 Makkiyyah 26
92 Al-Lail 21 Makkiyyah 9
93 Adh-Dhuha 11 Makkiyyah 11
94 Al-Insyiraah 8 Makkiyyah 12
95 At-Tiin 8 Makkiyyah 28
96 Al-'Alaq 19 Makkiyyah 1
97 Al-Qadr 5 Makkiyyah 25
98 Al-Bayyinah 8 Madaniyyah 100
99 Az-Zalzalah 8 Madaniyyah 93
100 Al- 'Aadiyaat 11 Makkiyyah 14
101 Al-Qaari'ah 11 Makkiyyah 30
102 At-Takaathur 8 Makkiyyah 16
103 Al- 'Asr 3 Makkiyyah 13
104 Al- Humazah 9 Makkiyyah 32
105 Al- Fiil 5 Makkiyyah 19
106 Quraisy 4 Makkiyyah 29
107 Al- Maa'uun 7 Makkiyyah 17
108 Al- Kauthar 3 Makkiyyah 15
109 Al Kaafiruun 6 Makkiyyah 18
110 An Nasr 3 Madaniyyah 114
111 Al- Masad 5 Makkiyyah 6
112 Al- Ikhlaas 4 Makkiyyah 22
113 Al- Falaq 5 Makkiyyah 20
114 An- Naas 6 Makkiyyah 21




PERINGATAN

1. Pembacaan Bismillah diambilkira sebagai ayat dalam surah AL-FAATIHAH.

2. Surah At-Taubah pada asalnya tidak dimulakan dengan Bismillah.

3. Jumlah Surah ialah 114

5. Jumlah Surah Makkiyyah ialah 86

6. Jumlah Surah Madaniyyah ialah 28

7. Jumlah ayat ialah 6239
 

Blogger news

Blogroll

About

Nama : Lailatul Istiqomah
e-mail : lailatulistiqomah261@gmail.com
facebook : ronalda
no.hp : 085859364014
alamat : RT 03 RW 94 Dsn wungurejo Desa Sidorejo Kec Rowokangkung Kab Lumajang.