Pages

Jumat, 25 April 2014

BERTELEPON dan MEMBACA INTENSIF BUKU BIOGRAFI

A.    BERTELEPON
Telepon berarti pesawat dengan listrik dan kawat untuk bercakap-cakap antara dua orang yang berjauhan tempatnya atau percakapan yang disampaikan melalui pesawat. Telepon merupakan alat komunikasi yang cukup efektif dalam menghubungi seseorang untuk memperoleh atau mengabarkan berita. Pada umumnya, telepon digunakan agar mempermudah hubungan atau komunikasi, walaupun tempatnya berjauhan.
Bertelepon berarti kamu berhadapan dengan orang lain walaupun tidak secara langsung bertatap muka. Untuk menghemat biaya bertelepon, kamu harus menggunakan kalimat efektif dan harus menghargai lawan bicara dengan cara menjaga sopan santun. Meskipun dalam bertelepon tidak saling bertatap muka, bahasa yang santun wajib digunakan. Kalimat efektif adalah kalimat yang singkat dan jelas. Singkat artinya menggunakan kosakata secara hemat. Sedangkan jelas artinya tidak menimbulkan penafsiran ganda.
Berikut ini tata cara bertelepon yang baik.
1.    Ucapkan salam pembuka.
2.    Sebutkan nama dan tujuan kita menelepon.
3.    Lakukan dengan kata-kata hemat tapi jelas dan mudah dipahami.
4.    Gunakan bahasa yang santun.
5.    Akhiri pembicaraan dengan ucapan terima kasih dan salam.

Contoh :

Guru    : “Hallo, selamat pagi!”
Siswa    : “Selamat pagi, dapatkah saya berbicara dengan Pak Surya?”
Guru    : “Iya saya sendiri. Ini siapa? Ada keperluan apa?”
Siswa    : “Saya Willy siswa kelas 7B, Pak. Karena ayah dan ibu saya sakit, saya ijin tidak masuk sekolah.”
Guru    : “Oh, begitu. Baiklah, semoga orang tuamu cepat sembuh.”
Siswa    : “Terima kasih pak. Selamat pagi.”
Guru    : “Selamat pagi.”

B.     MEMBACA INTENSIF BUKU BIOGRAFI
Pernahkan kamu membaca biografi seorang tokoh terkenal? Hal-hal apa saja yang dituliskan dalam biografi tersebut?
Biografi merupakan catatan riwayat hidup seorang tokoh, seperti negarawan, ilmuwan, sastrawan, seniman, dan pengusaha. Kamu dapat membaca biografi yang menguraikan riwayat hidup seseorang tersebut agar dapat mengambil pelajaran penting dari kehidupan tokoh yang bersangkutan.
Membaca intensif merupakan cara membaca yang dilakukan secara saksama terhadap rincian-rincian suatu teks atau bacaan. Di dalam sebuah bacaan terdiri atas beberapa paragraf. Paragraf-paragraf tersebut saling mendukung dalam menjelaskan satu tema. Dalam sebuah paragraf biasanya terdapat satu gagasan utama dan beberapa gagasan penjelas. Gagasan utama adalah gagasan yang menjadi dasar pengembangan paragraf. Sedangkan gagasan penjelas adalah gagasan yang perannya menjelaskan gagasan utama.

karya sastra

Karya sastra adalah hasil cipta,rasa, dan karsa manusia yang berwujud seni
Contoh karya sastra: -Puisi
                                  -Prosa (karangan yang berbentuk cerita)
                                  -drama
Puisi: -Puisi lama
         -Puisi baru
Puisi lama: -Pantun
                 -Syair
Macam-macam puisi baru:
1. Balada
    puisi berisi kisah/cerita
2. Himne
    puisi pujaan untuk Tuhan,tanah air, dan pahlawan
3. Ode
    puisi sanjungan untuk orang yang berjasa
4. Epigram
    puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup
5. Romance
    berisi luapan perasaan cinta kasih
6. Elegi
    berisi ratap tangis/kesedihan
7. Satire
    berisi sindiran/kritik
ciri-ciri pantun:

1.  Terdiri dari 4 baris
2. Baris 1 & 2 sampiran
3. Baris 3 & 4 isi
4. Bersajak a-b-a-b
5. Setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata

pengertian dari cerpen



A.   CERPEN
1.     Pengertian
Cerpen adalah cerita pendek, maksud pendek disini adalah panjang cerita itu kurang dari 10.000 kata atau kurang dari 10 halaman selain itu, cerpen hanya memberikan kesan tungggal yang dominandan memeutuskan diri pada satu tokoh dan 1 situasi.
2.     Unsur – unsur cerpen
Seperti halnya novel, cerpen memiliki unsure pembentuk dari dalam karya itu sendiri (intrinsik) dan unsure dari luar karya itu (ekstinsik). Nasib pelaku utama dalam cerpen tidak mengalami perubahan. Unsure in trinsik cerpen dan novel meliputi : tema, penokohan, alur, latar, gaya, bahasa, sudut pandang, dan amanat. Unsure ekstirinsik cerpen dan novel meliputi : kondisi sosial – politik pengarang, agama / kepercayaan pengarang, hidup pengarang dan aliran seni pengarang. Dalam bab ini hanya dijelaskan unsure intrinsic.
a)     Tema
Tema adalah ide pokok cerita ang menjiwai seluruh isi cerita. Tema suatu cerpen dan novel dapat berupa :
1.     Perlunyaq mencari ilmu untuk bekal hidup dimasa yang akan dating
2.     Kewajiban menolong sesame
3.     Penderita hidup karena putus cinta
4.     Kesuksesan hidup karena kerja keras
5.     Kekuasaan mengalahkan kebenaran
6.     Perlunya memiliki jiwa patriotism untuk membangun Negara, dsb
b)    Alur
Alur adalah jalannya cerita sejak awal sampai akhir. Alur  dibedakan menjadi 3 macam :
1.     Alur maju
Adalah jalannya cerita yang terjadi sesuai urutan waktu kejadian. Atau sejak awal sampai akhir. (A-2).
2.     Alur mundur
Adanya jalannnya cerita yang terjadi diakhir cerita lalu ke awal cerita.
3.     Alur campuran
Adalah jalannya cerita yang terjadi secara tidak berurutan. Bisa dari awal, dari akhir, atau dari bagian tengah cerita.
Rangkaian / tahapan peristiwa dalam cerpen dan novel adalah
1)    Tahap perkenalan (eksposi)
2)    Tahap pemunculan konflik 
3)    Tahap peningkatan konflik (komplikasi)
4)    Tahap puncak konflik (klimas)
5)    Tahap peleraian
6)    Tahap penyelesaian (tesolusi).
c)     Penokohan
Penokohan  adalah  panempatan tokoh dan watak tokoh dalam sebuah cerita. Berdasarkan sifat tokoh, tokoh dibedakan menjadi tokoh protagonis (tokoh yang mewakili ide pendengar / pembaca atau ang baik), toko antagonis (tokoh penentang protagonis / tokoh jahat), dari tokoh tri gonis(tokoh penengah atau netarl.
Berdasarkan perannya dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi tokoh utama, tokoh pembantu, dan tokoh figuran
( pelengkap saja ).
D. latar
     Latar ada tiga macam, yaitu tempat, waktu, dan suasana yang terjadi dalam cerita. Misalnya waktu malam hari tempatnya dikamar, suasananya gembira, dan sebagainya.
E. gaya bahasa
     Gaya bahasa adalah pilihan kata yang digunakan pengarang dalam bercerita. Termasuk dalam gaya bahasa penggunaan majas.
F. sudut pandang
    Sudut pandang adalah posisi pengarang dalam bercerita. Sudut pandang sama juga dengan kata ganti orang secara umum, sudut pandang / kata ganti orang dibagi menjadi tiga macam yaitu :
1.)              Kata ganti orang pertama ( orang yang berbicara )
a.     Tunggal → ditandai oleh kata aku< saya< hamba, beta.
b.     Jamak   → ditandai oleh kata kamu.
2.)              Kata ganti orang kedua ( orang yang dibicarakan )
a.     Tunggal → ditandai oleh kata kamu, engkau, saudara, anda, bapak.
b.     Jamak   → ditandai oleh kata kalian
3.)              Kata ganti orang kedua ( orang yang dibicarakan )
a.     Tunggal → ditandai oleh kata ia, dia, beliau, ahmad, siti ( mnama orang )
b.     Jamak   → ditandai oleh kata mereka tetapi dalam cerita cerpen ( cerpen dan novel ) sudut pandang hanya ada.
1.     Sudung pandang orang pertama, ditandai kata aku, saya, kami
2.     Sudut pandang orang ketiga ditandai kata dia, ia, mereka, nama orang ( seperti hasan, tuti maria, DSB.)
3.     Sudut pandang pengarang sebagai pencerita / serba tahu, ditandai, oleh kemampuan pengarang mengetahui seluk beluk kehidupan tokoh, termasuk segala sifat tokoh, termasuk segala sifat tokoh.
Dalam penggunaanya yang sering digunakan adalah sudut pandang orang pertama dan orang ketiga.
g. amanat
   amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang dalam cerita.
Contoh amanat antara lain
1)    Janganlah kita merendahkan orang lain, sebab belum tentu kita lebih baik dari padanya
2)    Rajinlah menabung untuk bekal hari esok
3)    Tuntutlah ilmu agar hidup menjdi mudah
4)    Hormatilah kedua orang tua kita
5)    Berlakulah adil terhadap sesama dan sebagainya.

Rabu, 19 Februari 2014

cara Menjauhkan Diri Dari Godaan setan

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
"Apabila kamu membaca al-Qur’an hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98).
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya pujian, pujian yang sebaik-baiknya lagi diberkahi. Segala pujian bagi Allah, Zat yang menyeru hamba-Nya menuju pintu-pintu rahmat-Nya, yang memberi kenikmatan dengan menurunkan al-Quran, di dalamnya terdapat petunjuk tatanan kehidupan yang damai dan sejahtera di dunia, dan menjanjikan sebuah kepastian kenikmatan yang sempurna di alam akhirat. Kita memuji-Nya atas kenikmatan-Nya yang banyak, juga atas petunjuk dan kemudahan jalan meraihnya dengan kitab-Nya, semoga kita termasuk orang-orang yang dijanjikan akan meraih kesempurnaan kenikmatan-Nya. Sesungguhnya, membaca al-Quran adalah amalan yang memiliki keutamaan sangat besar. Mereka para pembaca al-Quran adalah kaum yang terpuji, di mana Allah memuji mereka dengan firman-Nya,
إِنَّ الَّذِينَ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرّاً وَعَلَانِيَةً يَرْجُونَ تِجَارَةً لَّن تَبُورَ
لِيُوَفِّيَهُمْ أُجُورَهُمْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضْلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ
"Sesungguhnya, orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya, Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri." (QS. Fathir: 29-30).
Ada beberapa adab membaca al-Quran, namun tidak akan kita bahas semuanya, hanya terfokus pada firman Allah dalam Surat an-Nahl ayat 98 di atas saja, yaitu perintah ber-isti’adzah, berlindung kepada Allah dari godaan setan saat hendak membacanya. Sekelumit tentang berlindung kepada Allah dari setan serta hal-hal terkait dengannya akan kita sajikan di sini pada edisi kali ini, semoga Allah memudahkannya dan memberkahinya. Amin.
Penjelasan Kata-kata
اَلْقُرْآنَ : ialah kalam (firman) Allah, yang diturunkan dari sisi-Nya ke dalam dada Rasul-Nya, penutup para nabi dan rasul, Muhammad, yang diawali dengan Surat al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat an-Nas (Ushulun fit Tafsir, Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin).
فَاسْتَعِذْ : ber-isti’adzah-lah kepada Allah, yaitu membaca “at-ta’awwudz”, kalimat berlindung kepada Allah dari godaan setan.
اَللَّهِ : ialah lafzhul jalalah, yaitu sebuah nama khusus bagi Zat yang berhak dipertuhankan oleh segala sesuatu dan yang berhak diibadahi oleh seluruh makhluk-Nya (Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dan Tafsir ath-Thabari, 1/67), di antaranya sebab Ia adalah Zat yang bersifat melindungi hamba-Nya.
مِنَ الشَّيْطَانِ : dari setan, yaitu dari Iblis dan anak keturunannya serta pengikut-pengikutnya baik dari golongan jin, manusia maupun golongan binatang (Tafsir ath-Thabari, 1/57).
اَلرَّجِيْمِ : yang dilaknat, berarti yang dihalangi dan dijauhkan dari rahmat Allah.
Makna umum ayat
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan agar siapa saja yang hendak membaca al-Quran, di mana ia merupakan semulia-mulianya dan seagung-agungnya kitab, di dalamnya terdapat kebaikan hati, ilmu pengetahuan agama yang sangat banyak, hendaknya berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan ber-isti’adzah. Sebab setan itu sangat kuat kemauannya untuk berusaha sekuat daya upayanya memalingkan hamba dari maksud-maksud dan tujuan-tujuan baiknya ketika ia hendak memulai melakukan amalan-amalan yang utama.
Dan sebagaimana diketahui bahwa membaca al-Quran merupakan amalan yang utama, sehingga jalan keselamatan terhindar dari godaan setan dan kejahatannya adalah dengan bersandar kepada Allah, serta ber-isti’adzah meminta perlindungan kepada Allah dari kejahatannya. Sehingga Allah pun mensyariatkan agar seorang pembaca al-Qur’an hendaknya meminta perlindungan dengan melafazhkan isti’adzah, disertai tadabbur maknanya, tulus hati bersandar kepada Allah agar tidak dipalingkan hatiya oleh setan dari amalan utamanya tersebut. Disertai kesungguhan dalam usaha menolak was-was serta pikirannya yang hina, bersungguh-sungguh mengerahkan sarana apa saja yang paling kuat sehingga memungkinkan untuk menepis godaannya, dan sarana tersebut adalah dengan berhias diri dengan perhiasan iman dan tawakkal kepada Allah semata (Taisirul Karimir Rahman, Syaikh Abdurrahman as-Sa’di).
Lafazh-lafazh isti’adzah
Lafazh isti’adzah disebut juga at-ta’awwudz, dan di masyarakat kita istilah “ber-ta’awwudz” lebih dikenal dari pada “ber-isti’adzah”, namun keduanya sama saja dan tidak berbeda maksudnya, yaitu sama-sama bermaksud ber-isti’adzah. Di antara lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz adalah ucapan:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
"Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk."
Lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz seperti itu merupakan lafazh isti’adzah yang dipegangi dan dikuatkan oleh jumhur (mayoritas) ulama, mereka beralasan lafazh tersebut merupakan lafazh Kitabullah, al-Qur’an, seperti yang jelas terdapat dalam Surat an-Nahl ayat 98 tersebut (sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam al-Qurthubi dalam Tafsir-nya 1/62, dan juga oleh ulama ahli tafsir lainnya).
Ada lafazh isti’adzah yang lain, ialah ucapan:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
"Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya."
Atau lafazh lain yang semisal dengan lafazh tadi hanya ditambah nama di antara nama-nama Allah,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
"Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaan dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya." (Tentang lafazh isti’adzah ini lihatlah al-Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam al-Qurthubi 1/62, Tafsirul Qur’an al-Azhim oleh Ibnu Katsir 1/111-113, Sifat Shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hal. 68 dan Irwaul Ghalil, 1/341 keduanya oleh Syaikh Muhammad Nashirudin al-Albani.)
Makna ber-isti’adzah
Ber-isti’adzah artinya adalah membaca salah satu dari lafazh-lafazh isti’adzah atau at-ta’awwudz di atas tatkala hendak membaca al-Quran atau dalam keadaan tertentu yang seseorang berhajat kepada perlindungan Allah dari godaan setan.
Dan orang yang membaca isti’adzah atau ber-ta’awwudz berarti ia telah mengucapkan dengan lisannya, bahwa ia tengah memohon perlindungan kepada Allah, Rabb-nya dan Rabb segala sesuatu, Zat Yang Mahakuasa berbuat segala yang dikehendakinya, Zat Yang Maha Mengetahui segala sesuatu, sesembahannya makhluk yang dahulu maupun yang kemudian, dari kejahatan Iblis yang dijauhkan dan tidak dirahmati oleh Allah, juga dari kejahatan bala tentaranya, baik dari golongan jin maupun manusia (Aisarut Tafasir, Abu Bakar Jabir al-Jazairi, 1/10-11).
Ibnu Katsir rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya mengatakan, “Makna ber-isti’adzah adalah aku sandarkan diriku dengan berlindung kepada Allah supaya dijauhkan dari setan yang terlaknat agar tidak berlaku jahat kepadaku dalam agamaku maupun duniaku, dan agar ia tidak menghalangiku dari melaksanakan apa yang aku diperintahkan, dan agar ia tidak mendorongku untuk melakukan sesuatu yang aku dilarang atasnya, sebab setan itu tidak ada yang kuasa menahannya selain Allah…” (Tafsir Ibnu Katsir, 1/114).
Ber-isti’adzah itu sebelum atau sesudah membaca al-Quran?
Berkaitan dengan masalah membaca ta’awwudz saat membaca al-Quran, mungkin perlu dipertegas lagi kapankah seseorang itu ber-isti’adzah? Apakah sebelum ataukah sesudah membaca al-Quran?
Ayat nomor 98 dari Surat an-Nahl tersebut zhahirnya jelas sekali menggunakan kata kerja masa lampau, coba kita cermati firman Allah tersebut,
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Kita dapati pada ayat di atas kata kerja «قَرَأْتَ» yang menunjukkan kata kerja bentuk lampau, yang artinya pekerjaannya telah usai. Sehingga ayat di atas berarti “apabila kamu telah usai membaca al-Qur’an…” bukan “apabila kamu hendak membaca al-Qur’an…” bukan pula “apabila kamu sedang membaca al-Qur’an…”
Dari pemahaman zhahir ayat seperti inilah sebagian sahabat dan sebagian ulama berpendapat bahwa ber-isti’adzah itu dilakukan setelah membaca al-Quran, sebab isti’adzah itu untuk menyingkirkan ‘ujub setelah usai beribadah (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir 1/110-111 dan Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, Imam al-Qurthubi 1/63). Namun, pendapat ini lemah. Sebab, ini berseberangan dengan hadits-hadits yang menerangkan praktik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ber-isti’adzah. Adapun yang rajih (kuat) adalah apa yang dipegangi oleh jumhur (mayoritas) ulama, yaitu bahwa ber-ta’awwudz itu sebelum membaca al-Quran.
Jumhur ulama mengatakan bahwa isti’adzah itu guna untuk menyingkirkan was-was setan tatkala seseorang tengah beribadah, dan untuk itulah ber-isti’adzah adalah sebelum ia membaca al-Quran. Adapun makna ayat di atas kalimat «إِذَا قَرَأْتَ» itu bermakna “apabila kamu telah berkehendak membaca” sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam Surat al-Maidah ayat 6,
… إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ …
Yang artinya secara zhahir: “Apabila kamu telah tegak untuk mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu”, itu bermakna “apabila kalian sudah berkehendak untuk tegak menuju shalat”. Ayat ini dimaknai demikian berdasarkan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjumlah cukup banyak, sehingga kuatlah pendapat jumhur ulama ini bahwa isti’adzah itu dibaca sebelum membaca al-Quran (sumber yang sama di atas).
Di antara hadits yang menerangkan bahwa isti’adzah itu sebelum membaca al-Quran adalah haditsnya Abu Said al-Khudri radhiallahu anhu yang ia mengatakan, “Adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila shalat malam, beliau pun membaca istiftah (iftitah) dan bertakbir dengan membaca,
سُبْحَانَكَ اللَّهمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَارَكَ اسْمُكَ وَتَعَاليَ جَدُّكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ
Mahasuci Engkau ya Allah, dengan memuji-Mu, dan begitu melimpah keberkahan nama-Mu, dan Maha Tinggi keagungan dan kebesaran-Mu, dan tidak ada sembahan yang berhak diibadahi selain-Mu.”
Lalu beliau mengucapkan (( لا إله إلا اللَّه )) tiga kali, kemudian beliau membaca,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.
Kemudian beliau membaca (( اللَّه أكبر )) tiga kali, kemudian membaca,
أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ
Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, dari godaan setan yang terkutuk, dari kegilaannya dan kesombongannya, serta dari syair-syairnya.” (Sumber yang sama di atas, lihat juga catatan kaki no. 5, dan Al-Fathur Rabbani, Ahmad Abdurrahman al-Banna ,3/11/504)
Hadits tersebut dan hadits lain yang semakna dengannya, jelas menerangkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam itu ber-isti’adzah sebelum membaca Surat al-Fatihah, sebab doa istiftah itu dibaca oleh beliau sebelum membaca isti’adzah, dan tidak mungkin beliau membaca al-Fatihah sebelum membaca istiftah, artinya pastilah beliau membaca isti’adzah sebelum membaca al-Fatihah.
Keharusan berlindung kepada Allah dari godaan dan tipu daya setan (Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Ibnu Katsir, 1/110).
Tidak jarang didapati adanya permusuhan antara satu orang dengan orang lain. Dan ternyata permusuhan manusia itu tidak hanya terbatas pada permusuhan antarmanusia itu sendiri, bahkan permusuhan mereka dengan makhluk jenis lain yaitu setan. Setan jenis manusia lebih ringan daripada setan jenis jin. Sehingga Allah-pun memerintahkan agar bersikap pemaaf dan berlemah lembut dahulu menghadapi musuh dari jenis manusia. Allah berfirman,
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A’raf: 199).
Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan manusia untuk menjadi pemaaf, sebab dengan hal itu akan bisa diharapkan kembalinya seseorang pada asal tabiatnya yang baik lagi menyayangi dan lapang dada. Perhatikan juga firman Allah yang lain, misalnya yang tersebut dalam al-Quran surat al-Mu’minun ayat 96, juga surat Fushshilat ayat 34-35, maka akan semakin jelas bahwa Allah memerintahkan agar saling memaafkan dan saling berbuat baik agar tercipta persaudaraan yang saling kasih dan saling sayang.
Namun tidak demikian halnya perintah Allah dalam menghadapi setan dari jenis jin, kita diperintah harus berlindung darinya kepada-Nya semata, hanya itu perintah-Nya tidak ada yang lain. Sebab setan itu tidak akan menerima perlakuan baik sekalipun, sedangkan ia tidak menghendaki dari diri manusia selain kebinasaan semata. Hal ini sebab besarnya permusuhan dan pertentangan antara dia dengan bapak manusia, yaitu Adam alaihis salam, sejak di zaman dahulu kala. Sehingga Allah pun memberi peringatan akan bahaya setan bagi manusia dengan firman-Nya,
يَا بَنِي آدَمَ لاَ يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُم مِّنَ الْجَنَّةِ يَنزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءَاتِهِمَا إِنَّهُ يَرَاكُمْ هُوَ وَقَبِيلُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ تَرَوْنَهُمْ إِنَّا جَعَلْنَا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاء لِلَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ
"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapamu dari surga, ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya untuk memperlihatkan kepada keduanya auratnya. Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin-pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman." (QS. Al-A’raf: 27).
Dalam ayat yang lain Allah juga memperingatkan kita, bahwa setan itu adalah musuh bagi kita, maka kita diperintah harus menganggap sebagai musuh. Di antara sebabnya adalah setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (QS. Fathir: 6 dan al-Kahfi: 50).
Ayat-ayat di atas menegaskan tentang siapa itu setan bagi manusia, maka Allah pun mewajibkan agar manusia berlindung kepada-Nya dari tipu dayanya. Tidak lagi Allah perintahkan ramah-tamah atau yang lainnya sebab hal itu tidak akan ada gunanya bagi setan. Memang sejak semula setan hanya berkehendak jahat bagi manusia semuanya, ia berpura-pura tampil sebagai seorang pemberi nasehat, namun ia pun dusta, sebab ia hanya akan mencelakaan semata. Allah sebutkan dalam al-Quran dengan firman-Nya,
قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ
Iblis menjawab, “Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (QS. Shad: 82).
Allah mengusir amarah dan setan dari orang yang ber-isti’adzah
Isti’adzah memiliki keutamaan yang sangat besar. Cukuplah bagi kita dua hadits di bawah ini untuk mengetahui kebesaran dan kehebatan isti’adzah tersebut, yaitu untuk mengusir amarah, juga mengusir setan.
Imam al-Qurthubi rahimahullahu ta’ala dalam tafsirnya menyebutkan sebuah hadits (HR. Muslim, 2610 dan Bukhari, 6115, lihat Tafsir al-Qurthubi, 1/63 dalam muqaddimah dan Tafsir Ibnu Katsir, 1/112-113), sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Sulaiman bin Shurad, ia mengatakan, “Ada dua laki-laki yang sedang saling mencaci di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka salah satu di antara keduanya pun marah, mukanya memerah, dan padamlah raut wajahnya, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memandanginya lalu beliau bersabda,
إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
'Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.'
Kemudian, ada seseorang yang mendengar sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi mendatangi salah seorang dari keduanya (yang saling mencaci,—red.) lalu berkata, “Tahukah kamu apa yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tadi? Sungguh, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang apabila ia mengucapkannya niscaya akan hilanglah darinya (amarahnya itu), yaitu:
أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Maka, laki-laki tersebut pun mengatakan kepadanya, “Apakah menurutmu aku ini gila?”
Dalam hadits yang lain disebutkan oleh Imam Muslim dari sahabat Utsman bin Abil ‘Ash ats-Tsaqafi rahimahullahu ta’ala, bahwa dia mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengadu, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya setan telah datang dan menggangguku dalam shalatku juga menggangguku dengan mengacaukan bacaanku.” Maka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya,
ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خَنْزَبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفُلْ عَنْ يَسَارِكَ ثَلاَثًا
Itu adalah seorang setan yang disebut Khanzab, maka apabila kamu merasakan kedatangannya berlindunglah kepada Allaoh (ber-ta’awwudz-lah) darinya dan meludahlah ke kiri tiga kali.”
Utsman pun mengatakan, “Aku pun melakukannya, maka Allah pun mengusirnya dariku.” (HR. Muslim, 2203).
Allahu Akbar, Wallahul Musta’an.
  SEMOGA BERMANPAAT AMIN

Hakikat Godaan Jin & Setan, Bagaimana Cara Menghindari Tipu Dayanya?

Jin menurut bahasa berarti sesuatu yg tersembunyi dan halus. Sedangkan setan ialah tiap yg durhaka dari golongan jin manusia atau hewan. Dia dinamakan jin disebabkan tersembunyi-nya dari mata . Jin diciptakan dari api yg sangat panas .Jin adl makhluk Allah yg mempunyai kemampuan mengubah diri dgn berbagai bentuk. Mereka makan minum kawin dan beranak-pinak. Membisikkan dan menggoda manusia. Dapat melihat manusia tidak sebaliknya. ” Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yg kamu tidak bisa melihat mereka “. . Di antara mereka ada yg beriman juga ada yg kafir . Golongan yg kafir adl setan. Mereka takut pada manusia. Mereka makhluk lemah. Suka mencari rahasia langit tetapi mereka diusir dgn panah api .
Dalam sebuah hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ” Setan menampakkan dirinya ketika aku shalat atas pertolongan Allah aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku jika tidak disebabkan doa saudaraku Nabi Sulaiman pasti kubunuh dia “.
Berubah Bentuk Setan pernah menampakkan diri dalam wujud orang tua kepada kaum Quraisy sebanyak dua kali. Pertama ; ketika suku Quraisy berkonspirasi utk membunuh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Makkah. Kedua ; pada perang Badr lihat Surat Al Anfal 48. Jin beranak pinak dan berkembang biak . Tempat-tempat Jin Jin mendiami bumi sebelum adanya manusia dan kemudian tinggal bersama manusia. Tinggal di rumah bersama manusia tidur di ranjang yg tidak ditiduri. Tempat yg paling disenangi adl WC. Sebab WC tempat manusia membuka aurat.
Hai anak Adam janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh setan sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga ia menanggalkan dari keduanya pakaiannya utk memperlihatkan kepada keduanya auratnya ” .
Ketika kita masuk ke dalam WC agar aurat kita terhalang dari pandangan jin hendaknya kita membaca doa berikut setan laki-laki dan setan perempuan}. . Setan suka berdiam di kubur dan tempat sampah. Oleh krn itu kuburan menjadi tempat meditasi bagi tukang sihir. Nabi SAW melarang kita tidur menyerupai setan. Setan tidur di atas perutnya dan tak mengenakan busana. Tidur tak mengenakan busana menarik setan utk mempermainkan aurat manusia dan menyebabkan penyakit. Qarin Setiap manusia disertai setan yg selalu menggodanya. Allah berfirman artinya ” Yang menyertai dia berkata “Ya Tuhan kami aku tidak menyesatkannya tapi dialah yg beradadalam kesesatan yg jauh “. .
Manusia dan qarin-nya akan bersama di hari hisab. Aisyah bercerita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah di malam hari aku cemburu karenanya. Tak lama ia kembali dan menyaksikan tingkahku lalu ia berkata “Apakah kamu telah didatangi setanmu?” “Apakah setan bersamaku?” “Ya bahkan tiap manusia” “Termasuk engkau juga?” “Betul tetapi Allah menolongku hingga aku selamat dari godaannya”.
Setan makan bersama manusia yg tak berdoa ketika mau makan. Setan makan dgn tangan kiri sendirian dan dgn jarinya. Rasulullah ` melarang makan dgn tangan kiri. Beliau menyuruh kita makan bersama-sama mencuci tangan dan mulut sebelum dan sesudah makan. ” Setan adl pencari rahasia dan suka menjilati sisa makanan maka jauhilah. Siapa yg tidur sedang di tangannya masih tersisa bau makanan lalu tertimpa penyakit maka jangan ada yg disalahkan kecuali dirinya sendiri “. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita mematikan lampu menutup pintu jendela tempat-tempat penyimpanan air dan makanan dgn rapat sebelum tidur. Jika manusia tidur dan membaca doa sebelumnya setan menjauhinya. Allah menjaga orang yg sebelum tidur membaca doa. Jika manusia tidur tanpa berdoa setan mengikat kepalanya dgn tiga ikatan jika ia bangun dan mengingat Allah terlepaslah satu ikatan jika ia berwudhu terlepas lagi satu ikatan lainnya dan jika ia shalat terlepaslah ikatan yg terakhir.
Allah akan menghisab bangsa jin pada hari kiamat. Jin yg baik masuk Surga. Allah berfirman artinya ” yg tidak pernah disentuh oleh manusia dan tidak pula oleh jin “. . Golongan jin menikahi bidadari-bidadari dari bangsa jin. Golongan jin yg ahli maksiat masuk Neraka. Allah berfirman artinya ” Dan tetaplah atas mereka keputusan azab pada umat-umat yg terdahulu sebelum mereka dari jin dan manusia “. . Tidak Mengikuti Jejak Setan Al Qur’an menceritakan kisah Adam bersama iblis. ” Dan ketika Kami berfirman kepada para malaikat “Sujudlah kamu kepada Adam maka sujudlah mereka kecuali iblis. Dia adl dari golongan jin maka ia mendurhakai perintah Tuhannya “. . Semenjak itu setan bersumpah akan menyesatkan Adam dan keturunannya. ” Hai sekalian manusia makanlah yg halal lagi baik dari apa yg terdapat di muka bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan “. .
Barangsiapa yg mengikuti langkah-langkah syetan maka sesungguhnya syetan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yg keji dan mungkar “. . ” Sesungguhnya setan itu bermaksud menimbul-kan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamar dan berjudi dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat “. .
Mohon Perlindungan Allah menyuruh kita agar banyak minta perlindungan dari godaan setan. Dan katakanlah ” Ya Tuhanku aku berlindung kepada Engkau dari bisikan setan. Dan aku berlindung kepada Engkau ya Tuhanku dari kedatangan mereka kepadaku “. . Setan berangsur-angsur menarik kebinasaan Allah berfirman ” Barangsiapa yg berpaling dari pengajaran Ar Rahman Kami adakan baginya setan maka setan itulah yg menjadi teman yg selalu menyertainya. Dan sesungguhnya setan-setan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yg benar sedang mereka menyangka bahwa mereka mendapat petunjuk “. .
Atas dasar ini diadakan diskusi-diskusi mu’tamar-mu’tamar dan konferensi-konferensi keburukan. Tak ada kemanfaatan dari pelaksanaan dan hasil-hasilnya. Setan membisikkan bahwa syariat Islam tidak cocok di jaman ini keras dan melanggar HAM. Siapa yg cenderung kepada mereka menjadi musyrik. Jaman dahulu setan mencuri pendengaran berita-berita dari langit yg disampaikan para malaikat langit kepada para malaikat bumi. Setelah Nabi Muhammad SAW diutus Allah menerangkan keadaan syetan ” Dan sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit itu utk mendengar-dengarkan . Tetapi sekarang barangsiapa mencoba mendengar-dengar tentu akan menjumpai panah api yg mengintai “. dan .
Sihir termasuk pekerjaan setan yg utama. Praktek-praktek sihir berkembang di masyarakat yg lemah iman atau tidak beragama sama sekali. Betapa banyak orang datang ke dukun/paranormal utk minta banyak rizki berobat dari penyakit ingin cepat dapat jodoh lulus dalam ujian rujuknya wanita yg telah dicerai atau sebaliknya dan selainnya yg hal-hal tersebut merupakan kekuasaan Allah sedang kita hanya diperintah utk berdoa dan berusaha. Para dukun/paranormal mempunyai mata-mata yg menyebar di masyarakat utk mencari tahu rahasia-rahasia mereka lalu mereka menceritakan itu pada tuannya. Dan ketika seseorang mendatanginya dgn mudahnya dia menceritakan keadaan orang tersebut lalu ia heran dan tertipu. Seakan-akan si dukun tahu hal-hal ghaib.
 

Blogger news

Blogroll

About

Nama : Lailatul Istiqomah
e-mail : lailatulistiqomah261@gmail.com
facebook : ronalda
no.hp : 085859364014
alamat : RT 03 RW 94 Dsn wungurejo Desa Sidorejo Kec Rowokangkung Kab Lumajang.